A. Pertumbuhan dan Perkembangan
Kebondanas sudah dikenal orang pada tahun 1921 sebelum Indonesia merdeka yaitu masih dalam pemerintahan kolonial Belanda.
Antara masyarakat Kebodanas dan pemerintahan Belanda (penguasa) selalu terjadi pertentangan dan perselisihan, diantara salah seorang yang berani dan banyak menentang gagasan - gagasan Belanda adalah bapak Tarja (sebagai kekolot/pemuka).
![]() |
| Bapak Tarja (Almarhum): Foto diambil dari Kartu Tanda Penduduk |
Penentangan bapak Tarja yang pernah dilakukannya demi masyarakat antara lain: Ketika seorang Belanda bernama Mouris (baca: muris) yang diberi wewenang untuk mengurus wilayah kec. Pusakanegara, memberi kuasa kepada penduduk Kebondanas agar menempati tanah disebelah selatan jalan (sekarang jalan raya), bapak Tarja dibantu kawan - kawannya menentang dan tidak mau atas pemberian Tuan Maurris itu.
Bapak Tarja beserta teman dan kawannya memaksa untuk diberi tanah disebelah utara jalan, karena keteguhan tekad Bapak Tarja dan kawan pendukungnya, walaupun melalui perdebatan yang sengit akhirnya berhasil juga mereka untuk mendapatkan tempat disebelah utara jalan, antara lain mudah mendapatkan air untuk bercocok tanam, tanahnya gembur/subur dan banyak lagi alasan yang di kemukakan yang tidak perlu kami utarakan disini.
begitu pula mereka menentang pemerian tanah sawah diujung utara yang jauh dari desa, penduduk minta tanah persawahan yang tidak terlalu jaih dari tempat pemukiman. Berkat idzin Allah SWT, dapat berhasil juga.
Mereka sekuat tenaga untuk mendapatkan persawahan yang dekat dari tempat pemukiman, karena tanah persawahan yang diberikan oleh Belanda sukar dikelola dan tanah sangat terjal.
Desa kebondanas pada asalnya adalah salah satu kampung di bawah naungan desa karanganyar, kepala kampung Kebondanas pada tahun 1936 dijabat oleh bapak Syamsuddin. Selanjutnya dengan kepercayaan masyarakat terhadap bapak Syamsuddin, maka ia diangkat jadi lurah (kapal desa) yang membawahi seluruh kampung desa karanganyar dari tahun 1937 s/d 1945 (zaman kolonial Belanda dan Jepang).
Tahun 1945 berakhirlah jabatannya dan kemudian diadakan pemilihan kembali, menurut tata cara kepemerintahan Republik Indonesia yang sudah merdeka. Dalam pemilihan itu bapak Syamsuddin terpilih sebagai kepala desa Karanganyar. Namun karena pemerintahan belanda hendak menguasai kembali Republik Indonesia terjadilah kekacauan sehingga pada tahun 1947 bapak Syamsuddin berhenti dari jabatannya.
Selanjutnya Kepala desa dijabat oleh bapak Udi pada tahun 1948, kemudian pada tahun 1949 diganti oleh bapak Tarma dan pada tahun 1950 kepala desa dijabat oleh bapak Wardiah.
Pada tahun 1951 bapak Syamsuddin terpilih kembali menjadi kepala desa Karanganyar sampai dengan tahun 1965, tahun 1965 sampai dengan tahun 1966 kepala desa dijabat oleh bapak Malang, tahun 1967 diganti oleh bapak Jumrah sampai dengan tahun 1977.
Ditahun 1978 masyarakat desa Karanganyar mengadakan pemilihan kepada desa dengan calon:
- Bapak H. Sulaiman (H. Wasiban)
- Bapak Iji Sanuji
- Bapak Saman
- Bapak Syamsuri (Naib)
- Bapak Rukman
Dalam pemilihan ini yang terpilih menjadi kepala desa adalaha bapak Saman.
Dua tahun kemudian ada pemekaran desa Karanganyar termasuk desa yang padat penduduknya sehingga harus dilakukan atau diadakan pemekaran/pemecahan wilayah.
Tepatnya pada tahun 1980 desa karanganyar dibagi menjadi dua yaitu menjadi desa karanganyar dan kepala desanya tetap bapak Saman. dan kampung Kebondanas setelah dimekarkan menjadi desa (bapak desanya ditetapkan dengan nama Kebondanas) dengan kepala desa dijabat oleh bapak Yahya.
![]() |
| Kantor Pemerintahan desa Kebondanas |
B. Sarana Keagamaan
1.1 Sarana Peribadatan
Penduduk Kebondanas dari awal mulanya sampai sekarang sebagian besar bahkan semuanya memluk agama Islam. Untuk memenuhi sarana pengabdiannya terhadap Allah SWT, maka para sesepuh (kekolot/pemuka) mengajukan permohonan agar diberikan sebidang tanah untuk didirikan sebuah tempat berjamaah (sholat jama'ah/bersama).
Permohonan para pemuka masyarakat tersebut dapat tercapai, yang kemudian pada tahun 1937 berhasil mendirikan sebuah Surau (mushola/langgar), surau ini sangat sederhana sekali, bahan - bahan bangunan semua memakai bambu dan aapnya memakai rerumputan.
karena Surau pada waktu itu hanya satu - satunya yang dijadikan sarana/tempat untuk mengerjakan sholat jum'at/berjamaah.
Amat disayangkan walaupun telah dilakukan beberapa kali sholat jum'at dan sholat berjama'ah namun belum ada seorang imampun yang tetap dan senantiasa menjadi imam dalam sholat jum'at dan sholat berjama'ah.
Berkat keimanan yang kuat dan usaha yang sungguh - sungguh demi kemajuan keagamaan, maka para pemuka masyarakat berkumpul untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah itu mereka sepakat mengambil seorang Kiai untuk menjadi imam sholat.
![]() |
| Bapak Syamsuddin selaku ketua Musyawarah |
Pemusyawaratan yang diketuai oleh bapak Syamsuddin dan bapak Tarja sebagai wakil menghasilkan kesepakatan untuk membawa Kiai Karda dari pondok pesantren Pipisan yang diasuh oleh bapa Kiai Johar.
Kiai Karda berasal dari desa Termas, Banyumas Jawa Tengah yang ketika itu masih menjadi lurah pondok pesantren "Pipisan" Indramayu.
Surau yang didirikan untuk mengerjakan sholat bersama tersebut adalah diatas tanahnya bapak Maun (sekarang; sekitar tanahnya bapak Idin atau Belakang H. Sulaiman).
Karena makin pesatnya perkembangan masyarakat untuk melaksanakan ibadah bersama sedangan tempat kurang memadai dan karena ada yang memberi tanah wakaf yang luas lagi yaitu didirikan diatas tanah wakaf dari bapak "Satori, Ny. Lemah dan bapak Syukur". Pemindahan surau tersebut di prakarsai oleh:
- K. Kardi
- K. Ahmad Rowi
- Bapak Karti
- Bapak Saleh
- Bapak Barmawi
- Bapak Tarbin
- Bapak Tarja
- Bapak Ambari
- Bapak Sarnawi
- Bapak Jumar
- Bapak Marno
- Bapak Syamsuddin (Kepala Desa).
- Bapak Sakri
- Bapak Madngali
- Bapak Wani'i
- Bapak Lebe Dar
- K. Kaprani
- Bapak Asmui
- H. Nurohman
- Bapak Kaprawi
- Bapak Adbullah
- Bapak Ahmadi
- K.Holil
- K. Madyasin
- H. Fasihin
- Ust. Muslim
Pemindahan surau ini dilaksanakan kurang lebih pada tahun 1941. Pemindai surau dari tempat yang lama ke tempat yang baru tidak lagi Surau melainkan dibangun dan dijadikan sebagai Masjid yang pertama. Pembanguan masjid diketuai oleh dua orang tukang (sekarang arsitektur) yaitu:
- Bapak Karti
- Bapak Saleh
Yang di bantu oleh seluruh masyarakat dengan biaya suadaya masyarakat.
Masyarakat Kebondanas sejak zaman kolonial Belanda, Jepang bahkan sampai sekarang terkenal masyarakat yang gigih dan berani untuk menegakkan kebenaran, dengan berpedoman "AMAR MA'RUF NAHYU MUNGKAR".



0 Response to "BAB II - Desa Kebondanas dari Masa - Kemasa Bagain I"
Posting Komentar